Penurunan Belanja Lebaran: Sinyal Ekonomi Lesu
kasihterbaru.online – Para pemudik menunjukkan penurunan drastis dalam belanja Lebaran tahun ini. Pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai fenomena ini sebagai tanda nyata bahwa kondisi ekonomi sedang lesu.
Setiap tahun, masyarakat biasanya meningkatkan pengeluaran menjelang Idulfitri. Mereka membeli pakaian baru, makanan khas Lebaran, hingga oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Namun, tahun ini banyak pemudik memilih menghemat pengeluaran.
Fahmy menyebut dua penyebab utama dari penurunan ini. Pertama, inflasi membuat harga kebutuhan pokok melonjak. Kedua, ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat enggan membelanjakan uang mereka. “Masyarakat saat ini memprioritaskan kebutuhan pokok. Mereka mengurangi belanja non-prioritas,” kata Fahmy.
Ia menyebut belanja pemudik sebagai indikator penting dalam melihat daya beli masyarakat. Saat pemudik mengurangi konsumsi, artinya daya beli mereka benar-benar tertekan. Situasi ini memberi dampak besar terhadap sektor perdagangan dan industri kecil.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu, Fahmy menilai penurunan konsumsi ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Baca Juga : All England 2025: Fajar/Rian Kandas di Rubber Game”
Ia mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis. Pemerintah bisa memberikan bantuan tunai langsung kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, pemerintah perlu menstabilkan harga bahan pokok dan menekan inflasi.
Penurunan belanja juga memukul sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Banyak pelaku usaha mengaku omzet mereka turun drastis selama Ramadan. Biasanya, Ramadan dan Lebaran menjadi momen puncak penjualan.
Seorang pedagang busana muslim di Yogyakarta mengatakan pembeli kini hanya membeli satu potong pakaian, bahkan sering membatalkan transaksi. “Tahun lalu orang borong sampai tiga potong. Sekarang mereka menawar setengah harga,” ujarnya.
Fahmy menilai perilaku ini mencerminkan kecemasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Banyak keluarga memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya. Mereka merasa khawatir akan kenaikan harga dan pendapatan yang tidak stabil.
Ia mengingatkan bahwa konsumsi masyarakat berperan vital dalam mendorong roda ekonomi. Jika belanja masyarakat terus menurun, maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan optimal. Ia menegaskan perlunya kebijakan ekonomi yang fokus pada perlindungan daya beli masyarakat.
Dengan menurunnya belanja Lebaran, masyarakat Indonesia menunjukkan contoh nyata perubahan perilaku ekonomi. Pemerintah perlu merespons cepat agar momentum pemulihan ekonomi tidak hilang.
“Baca Juga :Jet Tempur Cina Jatuh di Hainan, Pilot Berhasil Selamat”