Korban Meninggal Bencana Aceh Bertambah Jadi 326 Orang
kasihterbaru.online – Bencana banjir dan longsor di Aceh terus menimbulkan dampak serius sejak 18 November 2025. Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan peningkatan jumlah korban meninggal hingga mencapai 326 orang. Pemerintah pusat dan daerah mengintensifkan operasi pencarian serta pengiriman bantuan.
“Baca juga: Penemuan Motor yang Dicuri di Blitar, Kisah Berkat Facebook” [3]
Bencana hidrometeorologi ini berdampak di 18 kabupaten dan kota. Sebaran kerusakan meliputi 227 kecamatan dan 3.433 desa. Data terbaru menunjukkan 344.018 kepala keluarga terdampak bencana ini. Jumlah warga terdampak mencapai 1.680.886 jiwa. Sebanyak 297.964 kepala keluarga mengungsi ke 698 titik penampungan yang tersebar di wilayah Aceh. Situasi ini menekan kapasitas logistik dan layanan kesehatan di daerah.
Kerusakan fasilitas publik juga sangat besar. Pemerintah mencatat 176 unit perkantoran rusak bersama 64 tempat ibadah dan 246 sekolah. Sebanyak 224 jembatan dan 442 titik jalan terputus akibat banjir dan longsor. Layanan kesehatan ikut terdampak dengan kerusakan pada 240 rumah sakit dan puskesmas. Kerusakan rumah warga mencapai 111.430 unit. Sektor pertanian juga terpukul dengan 64.837 hektare sawah dan 13.118 hektare perkebunan rusak. Ternak yang hilang atau mati mencapai 182 ekor.
Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal terus bertambah berdasarkan laporan daerah. Ia menyebut jumlah warga hilang mulai berkurang seiring intensifikasi pencarian. Data medis menunjukkan 1.435 warga mengalami luka ringan dan 523 mengalami luka berat.
Petugas gabungan dari BNPB, TNI, Polri, dan relawan kini mempercepat pencarian korban. Bantuan logistik dikirim melalui jalur darat dan udara. Pemerintah menekankan pentingnya pemulihan infrastruktur vital agar distribusi bantuan lebih cepat.
Pemerintah menargetkan percepatan penanganan darurat dalam beberapa hari ke depan. Pemulihan jangka panjang juga memerlukan perbaikan infrastruktur dan dukungan untuk pertanian. Situasi ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan di wilayah rawan hidrometeorologi. Pemerintah berencana mengevaluasi sistem peringatan dini untuk mencegah dampak besar di masa mendatang.
Operasi penanganan bencana hidrometeorologi di Aceh terus berlangsung di tengah meningkatnya jumlah korban dan sulitnya akses ke beberapa wilayah. Tim gabungan mempercepat proses evakuasi, pencarian korban hilang, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat yang mengungsi. Kondisi cuaca yang tidak stabil dan infrastruktur yang rusak menjadi tantangan utama dalam penanganan darurat ini.
Bantuan logistik dikirim berlapis untuk memastikan warga mendapatkan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Wilayah yang masih terisolasi dikirimkan bantuan melalui udara dan laut untuk mempercepat penanganan.
Beberapa daerah seperti Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara masih sulit dijangkau melalui jalur darat. Kerusakan jalan dan jembatan menjadi hambatan besar bagi petugas. Pemerintah menerjunkan TNI, Polri, BNPB, dan relawan untuk menjangkau wilayah tersebut.
Pemerintah Aceh menargetkan percepatan distribusi bantuan dalam waktu dekat. Tantangan cuaca dan kondisi geografis akan terus dipantau untuk meminimalkan risiko lanjutan. Upaya terpadu ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan awal bagi masyarakat terdampak.
“Simak juga: Agnez Mo Di Laporkan Ke Bareskrim Polri“ [5]