Penyebab Obesitas
kasihterbaru.online – Obesitas sering dianggap terjadi karena seseorang makan terlalu banyak dan jarang berolahraga. Pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Para ahli kesehatan menyebut obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks dengan banyak faktor penyebab.
Dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda, Sp.GK, M.Kes., menjelaskan bahwa obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh keseimbangan antara asupan kalori dan aktivitas fisik. Kondisi ini juga melibatkan berbagai faktor biologis dan fisiologis di dalam tubuh.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta. Menurutnya, obesitas merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan banyak mekanisme tubuh.
“Tapi ternyata obesitas itu sangat kompleks, tidak hanya soal intake dan output. Ada banyak sekali faktor multifaktorial,” kata Diana.
Dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialis gizi klinik di Universitas Indonesia tersebut menilai pemahaman masyarakat tentang obesitas perlu diperbaiki. Banyak orang masih menganggap obesitas hanya akibat pola makan berlebihan.
Diana menjelaskan tubuh manusia memiliki sistem hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Sistem ini berfungsi menjaga keseimbangan energi tubuh.
Beberapa hormon berperan mengirim sinyal kapan seseorang harus makan dan kapan harus berhenti. Namun, pada sebagian orang sistem tersebut tidak bekerja dengan optimal.
Akibatnya, seseorang dapat merasa lapar meskipun sudah makan dalam jumlah cukup. Kondisi ini membuat individu terus mengonsumsi makanan.
“Kadang seseorang sudah makan sampai kenyang, tetapi masih merasa lapar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan sinyal di dalam tubuh. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengurangi makan atau meningkatkan olahraga.
“Berarti ada sinyal di dalam tubuh yang tidak berfungsi dengan baik,” jelas Diana.
Gangguan pada sistem hormon dapat menyebabkan tubuh sulit mempertahankan berat badan ideal. Bahkan setelah seseorang berhasil menurunkan berat badan.
Banyak orang mengalami fenomena berat badan turun lalu naik kembali. Kondisi ini sering terjadi meskipun seseorang sudah menjalani diet dan rutin berolahraga.
Menurut Diana, salah satu penyebabnya adalah perubahan hormon yang terjadi setelah penurunan berat badan.
Ia juga menyebut adanya sel memori di dalam tubuh yang berperan dalam proses ini. Sel tersebut menyimpan “ingatannya” terhadap berat badan sebelumnya.
Ketika berat badan turun drastis, tubuh dapat berusaha kembali ke kondisi semula. Proses ini memicu peningkatan rasa lapar.
“Itu sering saya temui di praktik. Berat badan sudah turun, tetapi kemudian naik lagi,” kata Diana.
Selain faktor hormonal, perubahan kapasitas lambung juga memengaruhi rasa lapar seseorang. Tubuh bisa mengirim sinyal agar seseorang makan lebih banyak.
Fenomena ini membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih sulit dibandingkan yang diperkirakan banyak orang.
Masalah obesitas tidak hanya terjadi di Indonesia. Organisasi kesehatan dunia World Health Organization mencatat jumlah penderita obesitas terus meningkat secara global.
Dalam beberapa dekade terakhir, angka obesitas meningkat hampir tiga kali lipat di berbagai negara. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan berbagai penyakit kronis.
Obesitas meningkatkan risiko penyakit seperti Diabetes Tipe 2, penyakit jantung, serta gangguan metabolik lainnya. Karena itu, pemahaman yang tepat tentang penyebab obesitas menjadi sangat penting.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa obesitas perlu ditangani melalui pendekatan menyeluruh. Pendekatan tersebut mencakup aspek medis, nutrisi, serta gaya hidup.
Diana juga menekankan pentingnya menerapkan konsep mindful eating. Metode ini mengajarkan seseorang untuk makan dengan kesadaran penuh.
Mindful eating membantu seseorang memahami kebutuhan tubuhnya. Cara ini juga membantu mengontrol porsi makanan secara lebih baik.
Menurut Diana, seseorang tetap bisa menikmati berbagai jenis makanan. Namun, penting untuk memahami batas kebutuhan tubuh.
“Pentingnya mindful eating itu. Kita boleh makan saat Lebaran atau Natal, tetapi tetap tahu porsinya,” kata Diana.
Dengan memahami kebutuhan kalori tubuh, seseorang dapat menghindari konsumsi makanan berlebihan. Cara ini juga membantu menjaga berat badan tetap stabil.
Selain mindful eating, ia menyarankan masyarakat menjaga pola makan seimbang. Aktivitas fisik yang cukup juga tetap diperlukan.
Para ahli kesehatan menilai obesitas tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan sederhana. Mengurangi makan saja tidak cukup untuk mengatasi kondisi ini.
Diperlukan pendekatan yang mencakup evaluasi medis, pengaturan nutrisi, serta perubahan gaya hidup.
Dokter juga perlu mempertimbangkan faktor hormonal, metabolisme, dan kondisi kesehatan pasien. Pendekatan yang tepat akan membantu pasien mempertahankan berat badan ideal lebih lama.
Ke depan, edukasi masyarakat tentang obesitas perlu terus ditingkatkan. Pemahaman yang benar dapat membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan sejak dini.
Dengan kombinasi pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pemahaman medis yang tepat, risiko obesitas dapat ditekan secara bertahap.