Mendikdasmen
kasihterbaru.online – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan SD Negeri 2 Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu. Sekolah tersebut sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat banjir yang melanda daerah itu pada 2024.
Peresmian berlangsung dengan penandatanganan prasasti oleh Abdul Mu’ti dan pemotongan pita bersama Bupati Demak Eisti’anah. Lokasi acara berada di tangga utama menuju bangunan sekolah yang berbentuk panggung, sebuah desain strategis untuk menghadapi rob dan banjir.
“Alhamdulillah, hari ini kami meresmikan gedung revitalisasi SD Negeri Wonorejo 2. Sekolah ini unik karena berbentuk panggung, dan ini satu-satunya yang saya kunjungi dengan model seperti ini,” ujar Abdul Mu’ti usai peresmian.
Bangunan panggung ini dipilih agar sekolah tidak terdampak banjir di masa depan. Mendikdasmen juga mengapresiasi pelaksanaan revitalisasi yang dinilai akuntabel. Kepala sekolah melaporkan pembangunan sudah selesai 100 persen, dan sisa anggaran telah dikembalikan ke kas negara.
Baca juga: “Polri Fokus Percepat Pemulihan Bencana di Aceh Utara”
Program revitalisasi SD Negeri 2 Wonorejo dikerjakan secara swakelola dengan total anggaran Rp2,229 miliar. Secara nasional, revitalisasi sekolah pada 2025 mencakup 16.175 satuan pendidikan dengan anggaran Rp16,9 triliun dan progres sekitar 95 persen.
Di Kabupaten Demak, 110 sekolah dari PAUD hingga SMA dan SMK menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran Rp77,74 miliar. Program ini tidak hanya memperbaiki fasilitas pendidikan, tetapi juga memberdayakan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja. Setiap sekolah melibatkan 10 hingga 20 warga setempat, sekaligus membeli bahan bangunan di toko lokal.
Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 2 Wonorejo, Saeronzi, menyatakan syukur atas adanya program revitalisasi. “Sekolah kami mengalami banjir dua kali pada 2024, banyak fasilitas rusak dan tidak layak digunakan. Sekarang bangunan menjadi aman dan nyaman, warga sekitar juga terbantu,” katanya.
Bupati Demak, Eisti’anah, berharap program revitalisasi sekolah terus berlanjut. Ia mengakui keterbatasan anggaran daerah membuat perbaikan sekolah rusak bergantung pada dukungan pemerintah pusat.
“Tahun 2025, ada 89 titik SD dan SMP di Demak yang dibantu melalui program revitalisasi pusat. Untuk tahun berikutnya, kami sudah mengusulkan perbaikan sekolah rusak melalui aplikasi,” jelasnya.
Revitalisasi ini sekaligus menjadi strategi pemerintah untuk memastikan hak belajar anak tetap terpenuhi meski wilayah rawan banjir. Sekolah berbentuk panggung menjadi contoh adaptasi desain pendidikan terhadap tantangan lingkungan.
Selain menyediakan fasilitas aman bagi siswa, revitalisasi sekolah mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Bangunan yang lebih aman dan nyaman diharapkan mendorong prestasi akademik dan non-akademik peserta didik.
Program ini juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat melalui keterlibatan warga dalam pembangunan. Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya memperbaiki fisik sekolah, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan membangun kesadaran partisipasi masyarakat dalam pendidikan.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa model sekolah ini bisa menjadi referensi nasional, terutama di wilayah rawan bencana, agar anak-anak tetap dapat belajar tanpa terhambat bencana alam.
Baca juga: “BNPB Sebut Pembukaan KBM di Wilayah Banjir Sumatera Dipimpin Langsung Mendikdasmen”