Rupiah Melemah
kasihterbaru.online – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dalam sepekan terakhir. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi tekanan dari kondisi dalam negeri serta pengaruh data ekonomi global, khususnya dari AS.
Secara mingguan, pelemahan tercatat 0,44 persen dari akhir pekan lalu.
“Baca juga: Watermarking Teknologi Perlindungan Dokumen Vital”
Bank Indonesia melaporkan adanya capital outflow sebesar Rp16,85 triliun pada pekan pertama September 2025. Dana asing keluar dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi ini memperlihatkan berkurangnya minat investor asing terhadap aset berdenominasi Rupiah.
Aliran dana keluar menjadi tantangan karena berpotensi memperlemah ketahanan eksternal ekonomi Indonesia jika berlanjut.
Pelemahan Rupiah juga berkaitan dengan menguatnya Indeks Dolar AS (DXY) yang mencapai level 98,14 pada Rabu lalu. Penguatan dolar mencerminkan sentimen positif investor terhadap ekonomi AS setelah rilis data ketenagakerjaan yang lebih baik dari perkiraan.
Ke depan, prospek Rupiah akan bergantung pada arah kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar. Analis menilai stabilitas domestik menjadi faktor kunci agar pelemahan Rupiah tidak berlanjut lebih dalam.
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings Inc. Risiko ini muncul karena gejolak sosial bisa membebani pertumbuhan ekonomi dan memperlemah sektor keuangan nasional.
“Aksi unjuk rasa yang disertai kekerasan bisa berdampak negatif terhadap profil kredit Indonesia jika kondisi itu sampai membuat prospek pertumbuhan jangka menengah melemah,” ujar Ibrahim.
Selain faktor domestik, sentimen eksternal juga berperan besar. Pasar global menilai Federal Reserve kemungkinan memangkas suku bunga pada akhir September 2025 setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan penurunan lowongan kerja pada Juli. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pasar, sehingga memunculkan optimisme pelonggaran moneter.
Ekspektasi ini membuat dolar AS masih bergerak kuat, sehingga memberi tekanan tambahan pada Rupiah.
Rentang pergerakan diperkirakan berada di level Rp16.420 hingga Rp16.470 per USD, dengan potensi pelemahan lanjutan jika ketidakpastian global dan domestik belum mereda.
Ke depan, stabilitas sosial dalam negeri dan arah kebijakan moneter global akan menjadi faktor penentu bagi Rupiah. Investor menilai langkah pemerintah menjaga iklim politik dan kebijakan fiskal akan sangat menentukan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah tekanan pasar keuangan global.