Sam Smith
kasihterbaru.online – Sam Smith mengungkap pengalaman masa kecil yang pahit akibat bullying yang berlangsung sejak usia 8 tahun. Akibat ejekan itu, Sam bahkan merasa tertekan dan tidak nyaman mengikuti pelajaran renang di sekolah.
Dalam podcast Podcrushed bersama Penn Badgley, yang tayang pada 8 November 2025, Sam menyatakan bahwa bullying membuatnya sampai meminta sang ibu menghubungi pihak sekolah agar ia tidak perlu ikut pelajaran renang.
“Baca juga: Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2024 Antara Anies, Ahok, dan Dilema PDIP“ [3]
Tak tahan dengan ejekan teman-teman, Sam Smith memutuskan menjalani prosedur sedot lemak pada usia 13 tahun.
“Jadi waktu remaja, dadaku besar seperti anak perempuan. Aku diejek dan tak diizinkan berenang di sekolah,” ungkap Sam dalam podcast tersebut.
Kasus ini menunjukkan dampak serius bullying pada kesehatan mental anak-anak dan remaja. Para psikolog menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekolah untuk mencegah anak mengalami tekanan ekstrem akibat ejekan teman sebaya.
Meski mengalami masa sulit, Sam Smith kini menjadi sosok yang vokal tentang penerimaan diri dan kesehatan mental.
Sam Smith menuturkan bahwa ejekan teman-teman membuatnya nyaris tidak bisa ganti baju di ruang ganti sekolah. Ia merasa terus menjadi sasaran bully karena ukuran dadanya yang besar. Demi mengurangi tekanan psikologis itu, Sam memutuskan menjalani prosedur sedot lemak di area dada pada usia 13 tahun.
Mereka ingin putranya tidak terus-menerus menjadi bahan ejekan teman sekelas. Dukungan keluarga disebutnya sangat penting untuk menjalani prosedur medis di usia remaja.
“Supaya tak lagi dibully, aku melakukan sedot lemak di area dada di usia 13 tahun,” ungkap Sam dalam wawancara terbaru.
menyatakan bahwa operasinya berhasil, meski proses penyembuhan bekas luka terbilang lama. Ia harus mengenakan perban di area dada selama setahun penuh untuk mendukung proses pemulihan.
Pengalaman ini menyoroti dampak serius bullying terhadap kesehatan mental dan fisik remaja. Psikolog menekankan pentingnya dukungan keluarga serta intervensi sekolah untuk mengurangi tekanan dan mencegah trauma jangka panjang.
Meski melalui masa sulit, Sam kini terbuka membagikan pengalamannya untuk meningkatkan kesadaran tentang bullying dan pentingnya penerimaan diri. Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi remaja lain yang mengalami tekanan serupa, sekaligus membuka diskusi lebih luas mengenai kesehatan mental anak-anak.
“Simak juga: Kerusuhan Demo Pajak di Kenya, Belasan Tewas Ditembak Polisi“ [5]