SPPG Kepri
kasihterbaru.online – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kepulauan Riau terus mempercepat persiapan layanan gizi.
Sebanyak 74 calon dapur sedang dipersiapkan untuk mulai beroperasi.
Dapur tersebut akan mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kepri.
Langkah ini dilakukan untuk mengejar sisa target penerima manfaat tahun berjalan.
Program MBG menjadi bagian dari kebijakan nasional penguatan gizi masyarakat.
Sasaran utama mencakup kelompok rentan dan usia pertumbuhan.
Kepala Regional SPPG Kepri, Anindita Ayu, menyatakan optimisme pencapaian target.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah bersama SPPG.
Upaya percepatan dilakukan melalui penguatan infrastruktur dan koordinasi daerah.
“Capaian Kepri saat ini sekitar 78 persen dari target penerima manfaat,” ujar Anindita.
Pernyataan itu disampaikan saat dihubungi di Batam, Rabu.
Ia yakin sisa target dapat dicapai pada tahun ini.
Data internal SPPG menunjukkan progres signifikan penerima layanan MBG.
Total target penerima manfaat di Kepri mencapai 605.150 orang.
Hingga kini, sebanyak 474.708 orang telah menerima layanan.
Penerima manfaat berasal dari berbagai kelompok sasaran.
Kelompok tersebut mencakup siswa sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Kelompok ini dikenal sebagai sasaran 3B dalam program gizi nasional.
Program MBG bertujuan meningkatkan asupan gizi harian.
Pemerintah menilai intervensi gizi penting untuk mencegah stunting.
Dampak jangka panjang diharapkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Anindita menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja kolaboratif.
Koordinasi dilakukan antara pemerintah daerah, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
SPPG berperan sebagai pengelola utama distribusi pangan bergizi.
Dari sisi infrastruktur, SPPG Kepri terus memperluas kapasitas dapur.
Saat ini, sebanyak 172 dapur telah beroperasi penuh.
Jumlah tersebut berasal dari total potensi 305 dapur yang direncanakan.
Sebaran dapur mencakup seluruh kabupaten dan kota di Kepri.
Setiap dapur melayani wilayah tertentu sesuai kebutuhan lokal.
Kapasitas dapur disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat.
“Sebanyak 305 dapur merupakan potensi keseluruhan,” jelas Anindita.
Ia menyebut 74 calon dapur kini berada pada tahap persiapan.
Persiapan meliputi sarana, sumber daya manusia, dan standar operasional.
Selain itu, terdapat dapur khusus wilayah 3T.
Wilayah 3T mencakup daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Wilayah ini memiliki tantangan geografis dan logistik yang lebih kompleks.
Anindita mengakui dapur wilayah 3T belum beroperasi.
Namun, proses persiapan masih terus berjalan.
SPPG melakukan pemetaan kebutuhan dan kesiapan wilayah.
Akses transportasi menjadi tantangan utama di wilayah kepulauan.
Distribusi bahan pangan membutuhkan perencanaan lebih matang.
SPPG berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Ia juga membuka kemungkinan penambahan dapur baru.
Penambahan dilakukan berdasarkan evaluasi kebutuhan lapangan.
Evaluasi mempertimbangkan pertumbuhan penerima manfaat.
Langkah ini diharapkan memperluas jangkauan layanan MBG.
SPPG menargetkan pemerataan akses gizi di seluruh Kepri.
Terkait layanan selama libur Natal dan Tahun Baru, SPPG melakukan penyesuaian.
Seluruh dapur SPPG di Kepri menghentikan sementara penyaluran MBG.
Penghentian berlaku hingga 7 Januari 2026.
Kebijakan ini mengikuti surat edaran pemerintah pusat.
Penyaluran MBG dijadwalkan kembali normal mulai 8 Januari.
Anindita memastikan dapur siap beroperasi kembali sesuai jadwal.
“Sesuai edaran pusat, penyaluran kembali normal mulai 8 Januari,” kata Anindita.
Ia menegaskan tidak ada pengurangan komitmen layanan.
Penyesuaian dilakukan untuk menjaga efektivitas operasional.
SPPG Kepri juga menantikan kebijakan lanjutan untuk tahun 2026.
Beberapa aspek masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat.
Aspek tersebut mencakup insentif kader posyandu.
Selain itu, pengaturan gaji petugas Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia juga menunggu kepastian.
Teknis operasional MBG tahun depan akan mengacu pada juknis resmi.
SPPG tidak ingin melangkah tanpa dasar regulasi jelas.
“Kami masih menunggu juknis 2026 sebagai acuan,” tutup Anindita.
Ia menegaskan kesiapan SPPG mengikuti kebijakan pusat.
Koordinasi akan terus diperkuat menjelang tahun anggaran baru.
Persiapan 74 calon dapur mencerminkan komitmen SPPG Kepri.
Program MBG menjadi instrumen penting peningkatan kualitas gizi.
Capaian saat ini menunjukkan progres yang cukup signifikan.
Ke depan, tantangan utama berada pada pemerataan layanan.
Wilayah kepulauan dan 3T memerlukan perhatian khusus.
Dukungan regulasi dan infrastruktur menjadi kunci keberhasilan.
Dengan percepatan persiapan dapur, target penerima manfaat diharapkan tercapai.
SPPG Kepri menargetkan layanan gizi lebih merata dan berkelanjutan.
Program ini diharapkan memberi dampak jangka panjang bagi generasi mendatang.