Dinkes Banjar
kasihterbaru.online – Pemerintah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar bakti kesehatan massal untuk tiga desa rawan banjir.
Kegiatan ini menyasar Desa Pemakuan dan Tajau Landung di Kecamatan Sungai Tabuk serta Desa Tunggul Irang Ulu di Kecamatan Martapura. Program dilakukan untuk mencegah lonjakan penyakit pasca-bencana dan meningkatkan akses kesehatan warga terdampak.
Tim Dinkes bersama personel PSC 119, dipimpin M. Kholdani, memberikan berbagai layanan medis. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, kolesterol, dan asam urat.
Selain itu, warga mendapatkan konsultasi medis serta pembagian obat salep kulit untuk gangguan dermatologis akibat banjir. Ratusan balita dan ibu hamil menerima biskuit tinggi protein sebagai upaya pencegahan stunting.
Lebih dari 500 warga tercatat telah dilayani selama kegiatan. Puluhan kasus hipertensi dan masalah kulit ditemukan dan ditangani secara langsung di lokasi.
Baca juga: “Mendikdasmen Buka SD Baru di Demak Setelah Banjir”
Warga menyambut antusias kegiatan ini. Siti, 35 tahun, warga Pemakuan, mengatakan, “Rumah kebanjiran, kulit gatal-gatal. Untung Dinkes datang cepat setelah banjir surut, tekanan darah saya dicek dan dikasih salep.”
Bakti kesehatan massal ini memperlihatkan efektivitas pelayanan kesehatan cepat pasca-bencana, sekaligus membantu mengurangi risiko komplikasi penyakit tidak menular.
M. Kholdani menegaskan bahwa kegiatan ini bagian dari sinergi penanganan banjir oleh Pemkab Banjar. “Kami melakukan skrining dini penyakit tidak menular yang kerap meningkat pasca-bencana,” ujarnya.
Program ini juga sejalan dengan prioritas Pemkab Banjar dalam implementasi UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 dan Rencana Penanganan Bencana 2026. Penanganan dini penyakit dan pemberian nutrisi menjadi fokus utama.
Dinkes Banjar berencana melanjutkan kegiatan serupa di kecamatan lain terdampak banjir. Posyandu akan dilibatkan untuk pemantauan kesehatan warga secara berkelanjutan.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi daerah rawan bencana lain, terutama dalam pencegahan penyakit pasca-banjir dan pemantauan gizi anak.
Menurut data BNPB, banjir di Kabupaten Banjar berdampak pada ribuan rumah dan memicu risiko penyakit kulit serta hipertensi. Program layanan massal semacam ini penting untuk menekan potensi krisis kesehatan.
Layanan kesehatan cepat pasca-bencana terbukti efektif menurunkan angka komplikasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memperkuat sistem tanggap darurat kesehatan lokal.
Bakti kesehatan massal Dinkes Banjar menunjukkan bahwa penanganan bencana harus bersinergi dengan pelayanan kesehatan. Pendekatan ini melindungi warga, menurunkan risiko penyakit, dan mendukung implementasi UU Kesehatan.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan memperluas cakupan layanan dan melibatkan lebih banyak lembaga lokal untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana.